home    message    about    archive    theme
©
{greater than the sun; 68 light years away}

I have my own choices. I have reasons for every action I take. I have my opinions to many things that no one could change.

I have standards and if some people think it’s too high, I must say that it’s my business without need of anyone’s concern.

admit it, people. we hate to be judged, but we judge a lot. we see others based on our point of view, we prejudice them. the only difference is whether each of us speak what we judge nor we keep it to ourselves; we humans are gifted with intelligence and we build thoughts about things—that includes building about one human to another.

I am judged almost every time and I don’t care with most of it. back in high school, most people were afraid of me because of my facial expression. it’s not a big deal, because at some times, I’m showing my unpleasant face to people I don’t really like so the judgment might be true. I’m not bothered to speak in front of many people that I’m a cheerful and sociable person and I’d like to befriend everyone because I’m not the cheerful and sociable person that everyone likes. at first I’m quite concerned about it, until I realized that it’s not necessary to think about, so as long as it doesn’t irritating, I’m just going to let people judge me.

some who trust me that much literally count on my thoughts. whenever they had to choose between options and I’m available, they’d ask for my advice; that includes what color to wear or which food to order. it’s not that I proclaim myself as a good observer; my friends made me so, but I don’t care if some people have different taste. it’s like I don’t have time to argue over unnecessary topics with people whose opinion are just as hard to change as mine, but it’s a pretty big deal when they force me to change it. face it: except I want to, no one can.

so when people said that I must be daydreaming because I’m a 19 year old single who set high standards over so many things including boyfriend, I just keep my mouth shut, and I’m going to point to the first paragraph, plus: is it wrong to give yourself the best? I guess not, and it’s not like my standards are unexceptional—if some circumstances can change my mind, then so be it. maybe I’m stubborn, but I’m not that rigid.

this also applies to people I want to get close with. all my old friends know so well how much I don’t get really well with people. I need more time than others, but that doesn’t make me an anti-social because I’m only quiet when I’m not interested (and I can hardly find anyone interesting, pardon my arrogance) or I’ve tried making conversations but they treat me like I’m as boring as an onion. girls are easy to pull out conversation with, but guys are harder. but actually, it’s just a matter of choice. I have choices about people I want to get along with and the people I don’t want to. and if you’re not in my option, it’s either a) you don’t get in to the spotlight and I’m feel sorry for you for being a blurred vision; or b) I’ve made your point about you and I don’t find you any interesting because you’ve made bad impression.

I’ve been advised from people that I should be more friendly but, how, I’ve tried but I’m just completely awkward and I hate awkward situations. most people will eventually accept my reason, but I must admit that some people couldn’t. well—I accept myself being a wallflower, so why can’t you? 

here’s my thoughts to people who dislike my anti-social behavior: you can either leave me, or accept me. don’t ever try to change it, because I hate it. don’t argue with me with my sarcastic arrogant words. I’ll try not to, but somehow it’ll hurt you.

people made choices. I have mine, and this is it.

aku masih mencintaimu, tapi kini kau tak perlu tahu.

Maaf jika posting ini tidak mengandung sedikitpun unsur estetika.

Ma,
Aku sudah lelah. Lelah menjadi aku, yang bukanlah aku.
Aku lelah mengasihani diriku, melihat kenyataan yang tidak sesuai ekspektasiku.
Aku lelah membohongi diriku dan orang lain saat aku berpura-pura bahagia.
Aku lelah mencoba memungkiri perasaanku, ketika sesuatu menyakitiku tapi aku hanya diam.
Aku lelah dengan orang-orang yang tidak mendengarkan, memotong saat aku bicara, berprasangka.
Aku lelah dengan mereka, yang merasa paling tahu tentang diriku, yang mencoba mengubahku menjadi orang lain.
Aku lelah berusaha bertahan
Aku lelah terus membisu
Aku lelah memaafkan tapi terus mengungkit
Aku lelah hanya tersenyum saat terhina
Aku sakit, ma.
Dan saat bubuk mesiu itu menumpuk menyesaki dadaku, kelak mereka akan meledak, melubanginya.

Lelah seakan petang telah berganti malam
Dalam perjalanan yang menguras raga ini
Dan saat fajar tiba aku sudah mati.

"

Dan semua berawal dari sebuah proses singkat dalam kamar gelap.

Sebagaimana aku menemukanmu.

Cantik. Aku menemukanmu dari gambar-gambar yang kuambil, di tengah jenuh dan gamang hidupku. Tetapi kamu rekah seperti bunga Iris, dan aku awas seperti lebah yang mampu menangkap pola-pola warna ultraviolet tersembunyi di kelopakmu, pola warna yang tidak tertangkap mata manusia. Mereka menyebutnya nectar guides. Ya, kamu seperti bunga dengan nectar guides yang begitu terang, bahkan ketika aku melihatmu hanya lewat gambar jutaan pixels dari kamera digitalku. Teman-temanku memang menjulukiku Mata Lebah. Karena aku mampu menangkap aura objek dan merekamnya dalam gambar dengan warna-warna tajam. Seperti mata lebah yang mampu memisahkan ribuan warna, dan mengolahnya dalam sistematika otak yang sama sekali tidak sederhana, dengan volume otak jauh lebih kecil dari manusia. Tapi, bagaimanapun, kamu berbeda. Dari objek berwarna menonjol lainnya.

Kamu cantik. Bukan sekedar cantik, bahkan. Terlalu berwarna untuk mengisi kosong hitam putih hidupku.

Hidupku, Cantik, adalah kenang-kenangan pendek dalam frekuensi tinggi. Kelak, jika kau melihatku lebih dekat, kau akan mencatatku sebagai kenangan yang tak ingin kau ingat. Kau hanya akan menganggapku sebagai bagian singkat dari proses pembelajaran yang dengan cepat akan kaulupakan. Begitulah, kurasa. Seperti orang-orang lain. Mungkin aku seperti sebotol soft drink penghilang dahaga; sesaat kau begitu menginginkannya – tapi kau tahu ia tak terlalu baik untuk dietmu – dan segera setelah tetes terakhir lenyap di balik kerongkonganmu kau sudah melupakannya.

Cantik, aku hanya ingin dicintai sesederhana orang-orang lain. Aku orang biasa. Jangan pernah menganggapku istimewa. Ada lagi yang mesti kau ingat. Jika kita kelak saling mengenal, aku tidak pernah minta dikasihani.

"
  Ungu Violet

kartikajahja:

8 Mei 2014, “Apakah dia takut?” pikir saya saat itu, memikirkan bagaimana caranya agar dia merasa nyaman dengan saya. Sejujurnya saya juga takut. Takut salah langkah, salah bicara. Ia datang mengenakan syal besar dan sebuah masker yang menutupi separuh wajahnya. Ia tampak gusar.  Tangannya gemetar. Kami duduk di sebuah sudut minimart yang, untungnya, malam itu tidak terlalu ramai. Perlahan ia membuka maskernya, dan sebelum mengatakan sepatah katapun ia menangis sejadi-jadinya. Dan saya tak perlu mengenalnya, saya tak perlu bertanya, untuk tau sakit yang ia rasakan.

Teruslah membaca, dan saya akan bercerita tentang perjuangan berat seorang korban perkosaan yang tidak berakhir manis.

Perempuan itu adalah YF. Ia baru saja siuman dari pingsan ketika 4 petugas transjakarta memperkosanya bergantian di ruang genset berbau pesing di halte harmoni sentral Januari lalu. YF memang menderita berbagai penyakit. Ia sering pingsan. Sejak kecil sering sekali ia keluar masuk rumah sakit. Di hari kejadian, kota Jakarta sedang banjir di mana-mana. Udara dingin memicu penyakitnya. Ia jatuh pingsan dalam bus transjakarta. Dibantu seorang penumpang , ia turun di halte harmoni. Dalam keadaan yang masih lemas, ia dibopong oleh para pelaku ke ruang genset. Di ruangan inilah ia mengalami perkosaan bertubi-tubi. Setelah itu,  masih dalam keadaan shock YF pulang ke rumah. Belum benar-benar menyadari apa yang baru saja ia alami. Ini adalah hal yang dialami semua korban perkosaan. Tapi malam itu ia tak bisa berhenti menangis. Esok harinya, dengan mengumpulkan segala keberanian, ia melaporkan kejadian yang menimpanya.

Sampai hari di mana kami bertemu, YF berjuang sendirian berbulan-bulan. Sendirian melaporkan ke kantor Transjakarta dimana ia tidak ditanggapi serius. Sendirian ke rumah sakit untuk visum, dimana ia bertanya soal prosedur visum kepada seorang polantas yang kebetulan ada di depan rumah sakit. Lalu sendirian ke kantor polisi, melaporkan perkosaan yang dialaminya kepada petugas-petugas yang menanyainya berbagai detil kejadian tanpa gestur empati.  Tidak ada pendamping hukum. Tidak ada pendamping sosial. Visum psikiatri dengan psikiater rujukan dari kepolisian juga ia jalani sendirian. Biaya visum yang sangat tinggi ia tanggung sendiri.

Kalau bukan karena twitter mungkin kami tak akan pernah bertemu. Ia membaca beberapa tweet saya yang menentang “victim blaming” pada kasus-kasus kekerasan seksual. Melalui seorang follower, ia menanyakan info kontak saya. Dan pada tanggal 8 Mei saya menerima sebuah email darinya. Isinya janggal dan terasa sangat putus asa. Saat itu, kasus ini sudah memasuki proses persidangan yang ketiga. YF masih belum punya pendamping. Ia hanya didampingi ayahnya. Saya menawarkan untuk bertemu hari itu juga, dan ia mengiyakan. Semenjak hari itu, dia, saya, dan kawan-kawan saya, kami berjuang bersama untuk keadilan

Di luar kondisi fisiknya yang sering sakit, YF adalah salah satu orang paling kuat yang saya kenal. Semenjak kami menjadi akrab, saya semakin mengaguminya. Ia adalah perempuan yang pemberani, mandiri, dan tajam. Ia tulang punggung keluarga secara ekonomi. Bahkan sesudah kejadian yang membuatnya sangat trauma menggunakan kendaraan umum, ia masih harus naik turun bus untuk berangkat dan pulang kerja. “Mau gimana lagi? Kalau aku nggak kerja, nanti mama gimana?” ucapnya tanpa maksud memeras iba. It’s just the fact. Di saat-saat dimana ia bisa melupakan beban-bebannya, ia sangat supel. Bicaranya lugas dan lucu. “Aku dari dulu memang orangnya ramah. Ga pilih-pilih teman. Aku nggak pernah berpikiran jelek sama orang. Dulu aku pikir semua orang itu baik,” tuturnya pada saya suatu hari. Salah satu orang yang dipikirnya baik adalah pelaku yang sudah ia kenal sebelumnya. Sebagai pengguna rutin transjakarta, ia sering bertemu dengan petugas bersangkutan. Sialnya kita hidup dalam kultur dimana keramahan dan kepercayaan diri seorang perempuan sering disalah artikan sebagai sifat promiscuous, gampangan, gatelan, “minta”.

Tapi momen-momen YF yang ceria seperti itu tidak banyak. Saya sering menyaksikan perubahan moodnya yang sangat naik turun. Saat ia teringat kejadian yang menimpanya, wajahnya meredup. Percaya dirinya seperti terkuras habis. Kadang melamun dengan mata berkaca-kaca. Suaranya yang biasanya bersemangat menjadi lirih mengucap berbagai penyesalan, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpanya. Di saat-saat stressnya memuncak, beberapa kali ia pingsan. Tiga kali saya menyaksikan ia tersengal-sengal tak bisa nafas lalu pingsan saat terpicu oleh hal-hal yang sangat memukul mentalnya.

Perkosaan yang terjadi padanya bukan hanya menghancurkan YF secara psikis. Hubungan dengan keluarganya dan pacarnya pun menjadi terganggu. Ini sering terjadi pada korban perkosaan.  Keluarga dan pasangan tak tau bagaimana harus bersikap terhadap keadaan. Di satu sisi ingin mendukung, di sisi lain tidak mampu menerima apa yang terjadi pada orang yang mereka sayangi. Namun yang sangat ditakutkan YF adalah kehilangan pekerjaan. Kejadian ini dan berbagai proses yang mengikutinya memaksa YF untuk bolos kerja berkali-kali, memenuhi panggilan dari polisi, menghadiri persidangan, dan lain-lain. Tentunya, tidak ada perusahaan yang punya kebijakan cuti perkosaan. Keempat bajingan ini telah merampas tubuh dan jiwanya, juga memporak-porandakan hidupnya.

Pada pertemuan pertama kami, YF bercerita bahwa persidangan sudah memasuki sidang ke tiga. “Sidang pertama, aku nggak dikabarin sama jaksa. Tau-tau udah sidang. Taunya sesudahnya.” Katanya. Pada sidang kedua, dimana ia diagendakan memberi kesaksian, dua dari empat tersangka tidak datang. Ada urusan administrasi di rumah tahanan katanya, bertepatan dengan tanggal sidang. Sidang dibatalkan. Para pelaku dikenai pasal 290, pencabulan terhadap orang tak berdaya, dengan masa hukuman maksimal 7 tahun. Indonesia masih menggunakan KUHP peninggalan belanda, di mana definisi hukum untuk perkosaan mengharuskan adanya penetrasi penis ke vagina. Lain dari itu, ‘hanya’ dianggap pencabulan. Kalau kasus YF terjadi di negara lain yang sudah melek terhadap isu kekerasan seksual, pasti pelaku akan dikenakan pasal perkosaan. Hal-hal yang dialami YF, yang tidak bisa saya sebutkan disini, sangat tidak layak untuk hanya disebut ‘cabul’. Ini perkosaan. Ini gang rape. Bukan ‘sekedar grepe-grepe’ seperti yang sempat diberitakan media. 

Saya segera menghubungi kawan-kawan saya yang sangat concern terhadap kekerasan seksual. Kami dirujuk ke LBH Apik. Saya yang buta hukum, belajar hari itu bahwa nasib seorang korban tindak kriminal, apapun kejahatannya, 100% berada di tangan jaksa penuntut umum. Seandainya korban didampingi oleh lawyer paling top sekalipun, lawyer tersebut tidak ada hak bicara dalam persidangan. Tidak bisa mengajukan keberatan bila kliennya disudutkan. Pendamping hanya bisa membantu mengumpulkan bukt atau mengajukan saksi untuk dipanggil jaksa misalnya. Bila jaksa tidak mau follow up, ya tidak bisa apa-apa. Sementara jaksa YF, ujung tombak kasus ini, sejak awal hingga akhir tidak kooperatif .

 image

Tanggal 13 Mei, pertama kali saya menginjakkan kaki di pengadilan negeri Jakarta Pusat. Karena kasus ini masuk kategori kasus asusila, maka sidang dibuat tertutup. Sekuat tenaga saya mengupayakan supaya saya bisa tetap berada dalam ruang sidang untuk menemani YF.  YF diagendakan memberi kesaksian hari itu. Seharusnya ia mempunyai hak untuk meminta agar para terdakwa tidak dihadirkan di ruang sidang bersamanya. Tetapi hakim tidak memberinya opsi ini. YF sudah mengumpulkan segala keberanian yang ia miliki untuk hari itu. “Aku ga mau ditunda-tunda lagi. Aku udah siap,” katanya meski saat saya genggam tangannya bergetar hebat. “Jangan takut, biar saja mereka cecar kamu, tapi kamu yang tau fakta yang terjadi hari itu. Jawab semua sesuai fakta. You’ll be fine.” Saya berusaha menyemangatinya.

Tapi saya sangat terkejut ketika empat terdakwa, keempatnya petugas keamanan transjakarta, masuk ke ruang sidang didampingi lima orang pengacara. Lima! Bukan pengacara pro bono dari LBH atau semacamnya. Kelima pengacara ini datang dari berbagai law firm. Kita semua tau betapa mahalnya charge pengacara-pengacara law firm. Mungkin keempat petugas ini semuanya punya saudara lawyer yang mau mendampingi tanpa biaya???? What are the odds! Selain lima orang yang beracara hari itu, dua orang lagi dari tim kuasa hukum terdakwa duduk di samping saya dalam ruang sidang dengan tas LV dan sepatu louboutin-nya.

Persidangan dimulai. YF menceritakan kembali kejadian yang menimpanya di hadapan hakim, terdakwa dan pengacara-pengacara mereka, dengan jelas dan tegas. Satu hal yang saya kagumi dari YF, ia punya memori yang luar biasa. Bahkan hal-hal yang saya luput, seperti nomer perkara hingga setiap pernyataan yang ia dengar di ruang sidang, dia selalu ingat semuanya. Semua detil kejadian ia paparkan. Ia menjawab pertanyaan ketiga majelis hakim dan kelima pengacara itu dengan yakin. Justru saya yang sangat geram mendengar dangkal dan bodohnya pertanyaan-pertanyaan yang dilempar.

“Saudari, pakai BH warna apa hari itu?” tanya hakim anggota

“Sudah tau gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa ga ditemani?” tanya pengacara terdakwa

 “Saudari kan orang Aceh. Berarti muslim ya. Apa boleh seorang wanita muslim pakaiannya seperti itu?” Kata pengacara lainnya lagi.

 “Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?” tanya pengacara terdakwa lainnya. Dijawab YF bahwa hari itu ia pakai celana SELUTUT karena banjir. Tapi ia bawa celana panjang di tasnya. Itu sudah ada di BAP.

“Benarkah saudari saat itu sedang hamil dari laki-laki yang bukan suami saudari?” pertanyaan ini aneh sekali, sebab jelas-jelas YF tidak sedang hamil. Pun apabila seorang korban perkosaan sedang hamil, apa itu memberi pembenaran bagi pelakunya untuk memperkosa dia?

Yang paling membuat saya geram adalah ketika salah satu pengacara itu meminta YF mengenakan celana pendek yang ia pakai di hari kejadian. “Saya mau lihat, seberapa pendek celana itu di kaki kamu.” Kebetulan celana dan baju YF dijadikan barang bukti karena ada noda sperma di pakaian tersebut. Permintaan absurd ini ditolak hakim. Bagaimana dengan jaksa? Jaksa diam saja. Saat terdakwa diizinkan untuk bertanya langsung kepada YF pun jaksa tidak mengajukan keberatan.

Pemeriksaan keterangan korban ini berlangsung hampir dua jam. Saya takut sekali ia tidak kuat, pingsan atau break down. Tapi YF bertahan menjawab semua pertanyaan dengan amat luar biasa.

Sidang-sidang selanjutnya setelah itu bukan tanpa perjuangan. Saya dan pendamping hukum dari LBH Apik tidak pernah diperkenankan masuk ke ruang sidang. Meski sudah ada surat kuasa pendamping dan izin dari ketua pengadilan, kami selalu diusir hakim. Surat permohonan kami untuk memonitor jalannya persidangan tidak pernah direspon. Hanya YF yang boleh tetap berada di ruang sidang, sementara kami menunggu di luar. Sendirian ia mendengar keterangan saksi-saksi lain yang hampir semuanya tidak sesuai fakta atau bias. Dalam satu persidangan, YF sampai pingsan karena mendengar keterangan saksi yang berbohong dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.  Ketika menolong YF pingsan, saya melihat pengacara lawan mentertawakannya dan hakim mengatakan “Kalau ngga kuat ngga usah datang lah!” Tapi YF tetap bersikeras untuk selalu hadir dalam sidang, berhadapan lagi dan lagi dan lagi dengan empat orang yang memperkosanya. Dan itu bukan hal yang mudah. Berhadapan dengan mereka selalu mengorek traumanya. “Aku ga percaya sama jaksa dan hakim. Mbak Tika ga boleh masuk. Yang boleh masuk cuma aku. Kalau bukan aku terus siapa yang mengawasi?” katanya.

Jaksa memang sulit ditebak. Kawan-kawan yang berpengalaman di bidang hukum sering menyarankan agar kami bekerja sama erat dengan jaksa. Tapi saat kami hubungi untuk menanyakan perkembangan kasus, tanggal sidang berikutnya, menanyakan nomer perkara, menanyakan siapa saksi ahli yang akan ia panggil dan lain sebagainya, ia hampir tak pernah merespon. Hanya sesekali menjawab, itupun berhari-hari kemudian. Jangankan meluangkan waktu untuk bertemu, saat berpapasan di pengadilan saja ia selalu menghindar. Padahal ialah ujung tombak perjuangan korban. Tapi korban malah dibiarkan meraba-raba, bahkan buta soal kasusnya sendiri. Kawan saya yang juga survivor perkosaan dan pernah melewati proses hukum sampai terheran-heran. Sebab jaksa yang menangani kasusnya dulu berbeda sekali. Sangat kooperatif dengan korban.

Karena banyaknya kejanggalan, kami mengumpulkan kawan-kawan dari berbagai organisasi perempuan untuk meminta dukungan. Kami menggalang berbagai surat dukungan – desakan tepatnya – yang kami tujukan kepada pada hakim, jaksa, dan ketua pengadilan. 70 surat berhasil kami kumpulkan dari berbagai organisasi, termasuk dari kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Kami menuntut kasus ini ditangani dengan serius, sesuai prosedur dan dengan seadil-adilnya. Pada tanggal 20 Juni, kami mengadakan aksi damai di pengadilan untuk menunjukkan kepada pihak-pihak yang terlibat bahwa kasus ini banyak yang mendukung dan mengawasi. Sedikitnya di hadapan pelaku dan pendamping-pendamping hukum mereka yang selama ini selalu tengil di hadapan YF. Seperti orang-orang yang tidak merasa bersalah. Dalam hal ini, setidaknya kami berhasil. Atau kami kira demikian.

Setelah aksi damai dan penyerahan surat dukungan itu, sikap jaksa dan hakim sedikit berubah. Jaksa lebih responsif saat kami hubungi. Hakim juga terlihat lebih serius menangani persidangan. Bahkan YF terlihat bersemangat karena di sidang berikutnya dengan agenda keterangan terdakwa, keempat pelaku  menjawab pertanyaan-pertanyaan hakim dan jaksa dengan terbata-bata dan tidak konsisten. Sebab kesaksian mereka sangat berbeda dengan fakta, dan mereka bahkan tidak cukup cerdas untuk berbohong dengan meyakinkan. Dalam keterangannya di persidangan, mereka mengaku bahwa YF adalah pacar salah satu pelaku. Big lie! Saya kenal betul dengan pacar YF. Mereka juga mengaku dipaksa menandatangani BAP di bawah paksaan polisi. “Kami dipaksa menyalin BAP yang sudah ditulis polisi, kalau tidak kami akan disiksa di ruang bawah tanah” ujar salah satu terdakwa. Tidak ada ruang bawah tanah di kantor polisi. Dan ada rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa tidak ada pemaksaan atau kekerasan selama interogasi. YF keluar dari ruang sidang tersenyum, “Kelihatan banget mereka semua bohong. Hakim juga liat.” Ujarnya.

Tiba saat sidang tuntutan, kami datang ke pengadilan dengan cukup percaya diri. Kami cukup yakin jaksa akan memberikan tuntutan yang berat bagi terdakwa. Saat itu cukup banyak kawan-kawan yang datang memberi dukungan bagi YF, karena jaksa mengatakan sidang tuntuan adalah sidang terbuka yang berarti publik diizinkan menyaksikan jalannya persidangan. Ternyata tidak. Lagi-lagi kami diusir dari ruang sidang. Hanya YF yang diperbolehkan tetap di dalam ruangan. Melalui celah pintu, saya melihat YF duduk di samping seorang laki-laki yang ternyata adalah humas transjakarta. Entah kenapa dia boleh ada di dalam sana, sementara kami tidak. Perasaan saya mulai tidak enak saat melihat YF mendadak pucat.

Beberapa menit kemudian ia keluar ruangan dan sambil menahan air mata mengatakan “1 tahun 6 bulan.”

1 tahun 6 bulan, dipotong masa tahanan 5 bulan. Itu tuntutan jaksa, dari maksimal hukuman 7 tahun. Apabila jaksa hanya menuntut sedemikian ringannya, kemungkinan hakim memberi hukuman yang lebih berat dari itu hampir mustahil. Dipotong masa tahanan dan dengan pertimbangan pembelaan mereka, empat bajingan yang memperkosa perempuan yang dalam keadaan tak berdaya itu kemungkinan akan bebas dalam hitungan bulan.

Bukan hanya itu, korban juga harus menanggung malu akibat berita BOHONG yang disebarkan para pengacara pelaku di media. Dinyatakan mereka ke media massa bahwa

  1. YF dan salah satu pelaku bernama Ifan pernah berpacaran (http://news.detik.com/read/2014/07/02/184312/2626091/10/dituntut-15-tahun-berikut-pembelaan-petugas-transj-pelaku-pelecehan-seks)
  2. Korban pura-pura pingsan untuk mencari perhatian keempat laki-laki ini (http://www.thejakartapost.com/news/2014/07/05/men-plead-not-guilty-transjakarta-sex-abuse-case.html)
  3. Hubungan seksual yang terjadi di ruang genset halte dilakukan atas dasar suka sama suka.

Inilah yang dialami hampir semua korban perkosaan. Sudah diperkosa, ia kerap menjadi korban lagi di dalam sistem yang korup. Dipermalukan oleh media dengan pemberitaan bias yang hanya mencari sensasi. Disudutkan oleh stigma masyarakat (coba lihat kolom komentar dalam berita-berita perkosaan). Lukanya akan membekas seumur hidup. Terancam kehilangan pekerjaan karena kinerjanya menurun drastis. Relasinya dengan orang-orang terdekat terganggu. Rasa malu mengucilkannya dari pergaulan. Apakah akan selamanya begini? Mungkin tidak, tapi pemulihannya amat sangat panjang.

Lantas apa yang didapatkan pelakunya? Sentilan kecil dari sistem peradilan negeri tercinta ini.

Kita selalu mendorong agar perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan bersuara. Jangan diam, melapor. Tapi apabila ini yang akan mereka hadapi saat bersuara, akan semakin banyak korban yang diam dan membiarkan luka mereka membusuk dan menggerogoti  diri mereka sementara pelaku bebas berkeliaran.

This needs to change. Diawali dari diri kita dan cara kita memandang kekerasan seksual. Yang harusnya diganjar adalah permerkosa, bukan korbannya.

Tanggal 8 Juli 2014 besok, hakim akan memberi putusan untuk kasus YF. Kami tidak lagi berharap banyak, jujur saja. Tapi kami harap agar kawan-kawan semua, kita semua mau bergerak melawan kekerasan terhadap perempuan, agar apa yang dialami YF tidak terjadi lagi pada perempuan lain. Di manapun, dan siapapun kita punya kerentanan yang sama. Keep loving, keep fighting.

Kartika Jahja

7 Juli 2014

PS

Kami mengajak anda untuk menghadiri sidang putusan 8 Juli 2014, jam 13;00, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai bentuk dukungan dan solidaritas bagi korban-korban kekerasan seksual. 

this. made me cry.

di tengah-tengah euforia masyarakat terhadap pemilihan presiden, yang mana juga terjadi kepada saya, kasus menarik perhatian saya. ketika saya membacanya, tidak ada hal lain yang terbayang di benak saya selain rasa pilu, dan rasa malu.

sungguh, saya tidak pernah tahu, bahwa saya—yang menghabiskan waktu senggang saya berdebat tentang politik dan juga satu dari sedikit mahasiswa di kelas saya yang mendapatkan nilai A dalam mata kuliah paling sulit semester ini—bahwa tanggung jawab yang kami pikul sedemikian beratnya, sehingga karier di bidang hukum bukan semata-mata bergelimang harta.

demi Tuhan, saya adalah mahasiswi Fakultas Hukum. yang ironisnya, selalu mengeluh, betapa matakuliah yang diajarkan sangat sulit dipahami, ataupun metode pengajaran dosen yang kadangkala kurang komprehensif. kemudian posting ini seakan menampar wajah saya bolak-balik.

banyak hal yang harus diperbaiki berkaitan dengan penegakan hukum di Indonesia. “hukum bobrok” bukanlah istilah yang asing didengar di kalangan masyarakat, dan saya memilih untuk masuk ke dalam kebobrokan tersebut. tapi benarkah, bobrok seperti ini yang saya hadapi sekarang?

semoga ketika saya membuka posting ini lagi lima tahun kemudian, saya—kita, mahasiswa-mahasiswi Ilmu Hukum—telah berada di dasar kebobrokan; memperbaikinya. sehingga apa yang saya lakukan sekarang bukan hanya sekedar “menuntut ilmu demi membahagiakan orang tua”.

semoga stereotip ambisius yang menempel di dahi kita bukan sekadar ambisi omong kosong, se-omong kosong fanatisme terhadap calon presiden yang memprovokasi konflik di media sosial.

I saw you tonight. I saw you, in rainbows. I saw your rare kind of smile and I heard your joyful laugh bursts. I knew it when you laugh hard upon something funny until your stomach hurts and your cheeks turn red, but this one was different. this is the laugh when you know you’re feeling completely blissful without the need of making fun of someone, or something. 

I saw you, but I couldn’t run to you. if you were a bright-colored balloon, I’d be the needle who’d crush you apart. I could’ve just mess up your perfect sunshine with drizzling rain, but I wouldn’t; not to you.

I’ve done so much fuss that complicated your head and your heart. I’ve done trying, and I’ve stopped. I’ve always been the frost on your field of roses, and I’m sincerely sorry for being such a hard phase of your life.

you said that it was all your fault, for hadn’t treat me right. you said that I deserves someone better. guess what? I already got the best.

I’d rather disappear, like now, like what has been happening for ten years, vanish into the gray clouds of toxin that annihilated my heart from fully functioning.

ten years and I have always been this way, alone. driving on my car with nobody riding shotgun. thousand of nights weeping, and mornings without anyone to greet to. working from 9 to 5 in monotony, sometimes overtime without thinking if anyone’s waiting for dinner.

ten years on a long journey without thinking about seeing the rearview mirror. like it doesn’t even matter anymore. I could devastate myself into countless pieces if I want to. I could strangle myself with my own nerves, blaming why it didn’t work properly like it supposed to be. but I couldn’t; not to you.

I have gone for so long until no one cares with my whereabouts. then today, miles away from my hometown, our hometown. I saw you, out of the blue. but I didn’t say the “hi” I’ve always wanted to say but I kept hold on my tongue.

I was afraid I could be the needle on you. because the person’s the one who becomes the helium to fly you away—the one you held on hand in hand. I couldn’t see myself drown in some salty liquid from my eyelid and get rusted, so I ran before your eyes catch mine. but trust me, when I stepped far away, I kept on watching my back to see whether if you’re out of sight yet or not. then I could hear my head whispers. it sincerely wish your smile—and your laugh—sticks longer. maybe forever.

I might sound so poignant. I couldn’t even overcome my fears. I was in agony, but I still remember things. you were once in my number one dream I really wish could come true and it was about being happy with me.

am contented.

it doesn’t have to be side by side with me; I meant that wish for both of us, though separated, though for not the same reason. I’m just simply, seeing you elated, wholeheartedly, so—

I wish you do. I really do.

I dashed away, but something made me stop. suddenly something has ran through me, but it was not you. I heard people rushing. I heard sirens. I heard people saying I am crushed. I wonder if they said that literally.

but nothing matters anymore; it was all black. I felt nothing. all I know is that I’m going to keep this fidelity to infinity.

in conclusion is, whoever you with… be happy.