Cemburu: a fiction.

Gadis itu lebih cantik dari aku.

Pun aku tidak perlu heran melihat gesturmu terhadap dirinya. Hari ini kulihat kalian berdua, berjalan-jalan menghabiskan petang di akhir pekan. Aku hanya mampu mengawasimu dari jauh, tapi binar di matamu yang menatapnya terlihat sejelas titik hitam di atas putih.

Kalian bergandengan, langkah-langkah kaki yang berjalan seirama dengan gelak tawa. Meski kalian ada di tengah ramai pusat perbelanjaan, tidak ada pemandangan yang lebih jelas dari sosokmu dan dirinya.

Hal yang sama akan kamu lakukan jika saja aku masih bersamamu, bukan?

Kurasakan pedih di dadaku. Aneh, batinku, kukira ia sudah mati rasa. Namun pedihnya terasa mantap, dan aku yakin, aku cemburu. Aku juga ingin berada disitu.

Setiap Sabtu pukul lima terlewati denganmu bersamanya, duduk di outdoor seating restoran Italia favoritmu yang pernah menjadi favoritku juga. Gadis itu semakin mempesona, berbeda denganku. Waktu berjalan cepat hingga kutatap kalender, satu dekade sudah kita berpisah.

Aku mencintaimu sejak usiaku lima belas, yang tak kusampaikan hingga jiwa raga ini 20 tahun usianya. Di bawah deburan ombak Samudera Hindia, dan kamu 180 derajat di baliknya, di saluran interlokal. Kamu balas dengan sipu malu, berkata kamu mencintaiku juga. Hari itu, yang kemudian menandakan hari jadi kita.

Aku mencintaimu sejak usiaku lima belas, yang kutunggu hingga satu, dua, tiga, dan sepuluh tahun berikutnya, saat kamu duduk bersimpuh di hadapanku berkata bahwa aku satu-satunya, selamanya. Selamanya yang hanya sementara.

Sore ini, kamu tidak bersamanya. Batinku, kamu akan memesan carbonara favoritmu lagi, seperti yang sudah-sudah. Namun aku salah sangka saat pramusaji datang membawa pesananmu—al pomodoro?

Ah, ya. Bahkan dalam seiring waktu yang berjalan pun mengubah seleramu.

Yang kemudian kusadari, spaghetti al pomodoro. Favoritku. Yang tidak pernah jadi favoritmu, tapi kamu menyantapnya dengan tenang. Wajahmu terlihat sendu.

Aku tak kuasa mengawasimu hanya dari kejauhan saja. Kupercepat langkahku mengikutimu yang beranjak. Kulihat kamu memasuki toko bunga, membeli sebuket aster putih segar.

Gadis itu akhirnya nampak juga. Kudengar kamu memanggil namanya, melambai. Bagaikan sepasang kekasih yang lama tak berjumpa, kamu mengecup keningnya. Kemudian kamu meraih tangannya, yang sudah sebesar tanganku saat pertama kali kusadari bahwa aku mencintaimu, menyerahkan aster itu kepadanya.

Gadis itu memelukmu erat. Air matanya menggenang, untukku yang tak pernah dikenalinya.

Dan seusai untaian doa, ditinggalkannya aster-aster itu di atas pusaraku, yang hari ini 10 tahun usianya.

“Ibu…” bisik gadis itu. “Kami rindu padamu.”

Jakarta, Aug 2014

dedicated to the love(s) that never last.